Jumat, 28 November 2014

Konflik Partai Golkar semakin meruncing



INFO TABAGSEL.com-Konflik yang terjadi di dalam tubuh Partai Golkar semakin meruncing dan bahkan memicu tindakan kekerasan antara pendukung dua kubu.

Masing-masing pihak bersikukuh untuk menggelar Munas dengan jadwal masing-masing.

Pengamat menilai konflik ini merupakan yang terbesar di tubuh partai berlambang beringin, setelah reformasi.

Hari Senin (26/11), Tiga puluh empat Pimpinan Daerah Tingkat I Partai Golkar pro ABurizal Bakri mengumumkan dukungan mereka terhadap pelaksanaan Musyrawarah Nasional IX Partai Golkar yang akan digelar di Bali mulai 30 November mendatang.

Sementara kalangan anti Aburizal Bakri, mengatasnamakan rapat pleno DPP Golkar justru memecat Ketua Umum Aburizal Bakrie dan Sekjen Idrus Marham, dan membentuk Presidium Penyelamat Partai Golkar, yang mengagendakan Munas Desember mendatang.

Persoalan diperumit dengan pernyataan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdjiatno yang menyarankan penundaan Munas (pendukung Aburizal Bakri) di Bali, dan mempertanyakan izin penyelenggaraannya.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Fadel Muhammad yang berkubu di Aburizal Bakri mengatakan pelaksanaan Munas versi mereka sesuai dengan keputusan rapimnas.

Ia mengatakan, tidak mempermasalahkan kalangan Golkar lain yang tidak sepakat.

"Bikin tim (penyelamat) silakan saja, haknya tiap anggota bikin sesuatu."

"Mereka ingin merebut (jabatan) ketua umum, (jadi) mereka bikin (tim penyelamat partai) itu ya silakan," kata Fadel.

Menurut dia, dukungan terhadap Aburizal Bakrie untuk kembali menjabat sebagai ketua menguat.

Ia menyebut, Golkar dari kubunya juga akan memunculkan kader-kader muda di Munas nanti.
Konflik terparah

Di pihak lain, Presidium Penyelamat Partai Golkar menyatakan keputusan rapat pimpinan nasional di Yogyakarta beberapa waktu lalu tidak sesuai dengan aturan partai, karena diputuskan sepihak oleh kelompok pendukung Abrurizal Bakrie.

"Di Organisasi manapun tidak ada rapat yang hanya satu kali," kata Agun Gunandjar dari presidium.

"Ini tentang nasib Golkar lima tahun kedepan, bagaimana mengatisipasi populasi yang akan banyak sekali pemilih pemula, karena pemilih Golkar kebanyakan sudah meninggal atau sudah tua."

Perpecahan dalam tubuh Partai Golkar ini merupakan yang terburuk sejak masa reformasi. Sebelumnya, konflik hanya terjadi di tingkat elit partai warisan orde baru itu, yang menyebabkan sejumlah tokoh keluar dan membentuk partai politik baru, seperti Wiranto dengan Hanura, Prabowo Subianto mendirikan Gerindra dan Surya Paloh memimpin Partai Nasdem setelah kalah dalam Munas di Riau pada 2010 lalu.

Pengamat politik Djayadi Hanan mengatakan konflik Golkar sekarang ini meruncing karena adanya ketidakmampuan pemimpin partai untuk mencari solusi konflik internal dan lebih mengedepankan sikap otoriter dengan memecat kader yang berbeda pendapat dengan elit partai.
Bisa ditinggalkan

Djayadi mengatakan jika konflik ini tidak dapat diselesaikan diperkirakan Partai Golkar akan justru ditinggalkan para pemilih.

"It's now or never. Jadi Golkar bisa jadi partai kecil kalau masih menampilkan pengurus lama yang berkuasa, yang tidak berprestasi karena tidak mencapai target untuk menjadi pemenang pemilu dan mengajukan capres," jelas Djayadi.

Menurut Djayadi jika ingin bertahan Golkar harus memunculkan tokoh-tokoh muda seperti yang dilakukan partai politik lain di Indonesia, agar dapat melakukan penyegaran.Djayadi mengatakan sebagai partai senior yang paling kuat dari sisi kelembagaan dan keuangan Golkar harus menjadi contoh bagi partai politik di Indonesia, dan bukan malah terjebak dengan pertarungan politik internal