INFO TABAGSEL.com-Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization/UNESCO), mengungkapkan sebagian besar air sungai dan sumber mata air di Kota Medan sudah tercemar limbah.
“Hampir semua sungai dan sumber air yang ada (di Medan) telah mengalami pencemaran,” kata Deputy Director and Senior Program Specialist for Water and Environmental Sciences UNESCO, Prof. Shahbaz Khan di Medan, baru-baru ini.
Hal itu diungkapan Shahbaz Khan saat bersama tim dari IHE Institute for Water Education beraudensi dengan Direksi PDAM Tirtanadi di Medan pada Senin (27/1).
Turut hadir dalam audiensi itu ahli Hydrologi dari Australia Dr. Tariq Rana, staf UNESCO-IHE Eva Sisca Mia, staf UNESCO-IHE dan Kabag SDA Setda Kota Medan Budi Utari.
Ia menjelaskan, pihaknya selama beberapa hari di Medan telah mengunjungi dan melakukan riset terhadap beberapa sungai dan sumber air termasuk yang digunakan oleh PDAM Tirtanadi.
Dari hasil riset tersebut, tim riset UNESCO-IHE menyimpulkan bahwa hampir semua sungai dan sumber mata air di sekitar Kota Medan telah mengalami pencemaran oleh Limbah domestik, limbah pabrik dan akibat Galian C.
Menurut dia, satu-satunya sumber air yang paling baik saat ini dan juga merupakan sumber air terbaik di dunia, yaitu sumber air Sibolangit di Kabupaten Deli Serdang.
Oleh karena itu, pihak UNESCO-IHE Institute for Water Education akan membantu PDAM Tirtanadi untuk menjaga dan memelihara sumber daya air yang merupakan sumber air baku bagi pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat tersebut.
UNESCO-IHE, lanjutnya, juga akan berkoordinasi dengan Pemkot Medan dan Pemprov Sumut untuk mengawal kebijakan mengenai pemeliharaan sumber daya air yang ada di Kota Medan sekitarnya.
Dengan demikian, kata Shahbaz Khan, air baku yang digunakan PDAM Tirtanadi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat dapat terjaga kelestarian dan kualitasnya.
Terkait dengan rencana tersebut, pihaknya juga meminta PDAM Tirtanadi untuk menyediakan data yang diperlukan untuk tujuan tersebut.
Pada kesempatan itu, Direktur Operasi PDAM Tirtanadi, Mangindang Ritonga menyampaikan terima kasih atas terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan UNESCO-IHE.
“Kami akan segera memberikan data yang diperlukan dalam rangka membuat kebijakan untuk menjaga kelestarian dan kualitas sumber daya air yang akan dilakukan UNESCO-IHE,” ujarnya.
Diakui Mangindang, pekerjaan yang paling berat adalah mengubah kebiasaan atau perilaku masyarakat yang selalu membuang sampah ke dalam sungai.
“Pola pikir yang menganggap sungai sebagai tong sampah raksasa harus dihilangkan,” ujar dia. Selain itu tantangan lainnya adalah menertibkan aktivitas galian C yang hingga kini masih marak terjadi, karena hal ini menyangkut penegakan hukum dan kehidupan sekelompok masyarakat yang menggantungkan hidupnya dan keluarganya dari galian C tersebut.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar